Kebijakan tidak buat skripsi

by - Oktober 12, 2023

Apa itu Kebijakan Tidak Perlu Buat Skripsi Lagi dan Bagaimana Dampaknya?

Skripsi merupakan salah satu tugas akhir yang harus diselesaikan oleh mahasiswa S1 atau D4 di Indonesia untuk mendapatkan gelar sarjana. Skripsi adalah sebuah karya tulis ilmiah yang menguji kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian, mengolah data, berpikir kritis, dan menulis secara sistematis. Namun, skripsi juga sering menjadi beban bagi mahasiswa, karena membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, pada tanggal 29 Agustus 2023, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim meluncurkan program Merdeka Belajar Episode 26 yang salah satu bagian dari program tersebut adalah kebijakan tidak perlu buat skripsi lagi. Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan kemerdekaan dan fleksibilitas kepada perguruan tinggi dan program studi dalam menentukan standar kompetensi lulusan mereka. Mahasiswa S1 atau D4 tidak lagi diwajibkan untuk membuat skripsi sebagai tugas akhir, tetapi dapat memilih bentuk lain seperti proyek, prototipe, atau karya seni. Mahasiswa S2 atau S3 juga tidak lagi diwajibkan untuk membuat tesis atau disertasi, atau untuk mempublikasikan karya ilmiah mereka di jurnal terakreditasi atau bereputasi.

Kebijakan ini tentu saja menimbulkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak, terutama dari para mahasiswa sendiri. Ada yang mendukung kebijakan ini, karena dianggap dapat mengurangi beban akademik dan biaya pendidikan, serta mempercepat proses kelulusan. Ada juga yang menolak kebijakan ini, karena dianggap dapat menurunkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi, serta merugikan perkembangan ilmu pengetahuan.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara lain? Apakah ada negara-negara yang menerapkan kebijakan yang sama atau serupa dengan kebijakan tidak perlu buat skripsi lagi di Indonesia? Dan bagaimana dampaknya pada dunia kerja dan kualitas pendidikan di negara-negara tersebut?

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa contoh negara-negara yang menerapkan kebijakan tidak perlu buat skripsi lagi, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Swedia. Kita akan melihat bagaimana sistem pendidikan tinggi di negara-negara tersebut, bagaimana tanggapan dari para mahasiswa di negara-negara tersebut tentang kebijakan ini, dan bagaimana dampaknya pada dunia kerja dan kualitas pendidikan di negara-negara tersebut.

Amerika Serikat

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang terkenal memiliki sistem pendidikan tinggi yang berkualitas dan bervariasi. Banyak universitas di negara ini yang masuk dalam peringkat dunia, dan menawarkan berbagai program studi yang menarik dan inovatif. Namun, sistem pendidikan ini juga menghadapi beberapa tantangan, seperti ketimpangan pendidikan, biaya pendidikan tinggi, standar ujian yang berlebihan, dan kurangnya guru berkualitas .

Di Amerika Serikat, untuk mendapatkan gelar sarjana atau lulus S1 tidak perlu pakai skripsi. Secara umum, kampus-kampus menerapkan syarat minimal SKS yang harus ditempuh, IPK minimum, dan ujian akhir semester untuk menentukan kelulusan . Untuk tugas akhir sendiri, biasanya mahasiswa di AS akan melakukan proyek profesional dan ujian komprehensif tertulis untuk mencapai gelar sarjana mereka .

Mungkin ada beberapa mahasiswa yang merasa puas dengan kebijakan ini, karena mereka dapat lebih fokus pada pengembangan keterampilan praktis dan kreatif yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun, mungkin juga ada beberapa mahasiswa yang merasa kurang puas dengan kebijakan ini, karena mereka kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan penelitian ilmiah dan menulis secara akademis .

Australia

Australia menjadi salah satu negara favorit yang diincar mahasiswa Indonesia yang ingin melakukan study abroad. Negeri Kanguru ini menawarkan pendidikan tinggi yang berkualitas, terjangkau, dan fleksibel. Banyak mahasiswa asing, termasuk dari Indonesia, yang memilih untuk belajar di Australia.

Di Australia, program bachelor adalah coursework program di mana tidak ada istilah skripsi, tesis atau juga penelitian . Mahasiswa dinyatakan lulus jika berhasil menyelesaikan setiap mata kuliah yang diambil dan berhasil melewati jumlah credits tertentu .

Mungkin ada beberapa mahasiswa yang merasa senang dengan kebijakan ini, karena mereka dapat menyelesaikan studi mereka dengan lebih cepat dan hemat biaya. Namun, mungkin juga ada beberapa mahasiswa yang merasa kecewa dengan kebijakan ini, karena mereka tidak dapat menunjukkan prestasi akademik mereka melalui skripsi .

Swedia

Swedia adalah salah satu negara yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Eropa dalam hal pendidikan. Negara ini menawarkan pendidikan gratis bagi warga negara Uni Eropa, dan memiliki standar akademik yang tinggi. Negara ini juga terkenal dengan inovasi dan penelitian di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Di Swedia, mahasiswa S1 tidak wajib membuat skripsi, tetapi dapat memilih untuk melakukannya jika mereka ingin . Jika mahasiswa memilih untuk tidak membuat skripsi, mereka harus mengambil kursus tambahan untuk memenuhi persyaratan SKS .

Mungkin ada beberapa mahasiswa yang merasa senang dengan kebijakan ini, karena mereka dapat memilih bentuk tugas akhir yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Namun, mungkin juga ada beberapa mahasiswa yang merasa sedih dengan kebijakan ini, karena mereka tidak dapat mendapatkan pengalaman penelitian atau mempersiapkan diri untuk studi lanjutan .

Kesimpulan

Kebijakan tidak perlu buat skripsi lagi adalah sebuah kebijakan yang memiliki pro dan kontra. Kebijakan ini dapat memberikan kemerdekaan dan fleksibilitas kepada perguruan tinggi dan program studi dalam menentukan standar kompetensi lulusan mereka. Mahasiswa dapat memilih bentuk tugas akhir yang sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan pasar kerja mereka. Namun, kebijakan ini juga dapat menurunkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi di Indonesia. Skripsi merupakan salah satu bentuk penilaian akademik yang menguji kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian ilmiah, mengolah data, berpikir kritis, dan menulis secara sistematis. Skripsi juga dapat menjadi bahan referensi ilmiah bagi peneliti lainnya, serta menjadi bukti prestasi akademik bagi mahasiswa.

Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, dan Swedia mungkin sudah menerapkan kebijakan yang sama atau serupa dengan kebijakan tidak perlu buat skripsi lagi di Indonesia. Namun, dampaknya pada dunia kerja dan kualitas pendidikan di negara-negara tersebut mungkin berbeda-beda, tergantung dari banyak faktor. Ada beberapa mahasiswa yang merasa puas dengan kebijakan ini, karena dapat lebih fokus pada pengembangan keterampilan praktis dan kreatif. Namun, ada juga beberapa mahasiswa yang merasa kurang puas dengan kebijakan ini, karena kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan penelitian ilmiah dan menulis secara akademis.

You May Also Like

0 komentar